#1MugBeras

Peduli Rokatenda

Minggu, 03 Desember 2017

Akhirnya, Aku Memilih Nama. - Poetry



I

Ketika penantianku sudah sampai puncak.
Dia ada diatas. berdiri tegap layaknya Ksatria Jingga. ppenantian puncak. kesalku menggunung tidak terbebendung. Kamu dan  kongko - kongkomu yang membuat alasanku berada di puncak teguh.

Akhirnya aku memilih nama,
kamu dibalik semua yang manis.
yang selalu berusaha baik pada yang manis.
tidak padaku.

Pembicaraan kita selalu sama.
tidak pernah berubah, berloncatan dari satu nada kelainnya.

Aku memilih?
Sebenarnya tidak.
Hatiku? Apalagi?

Aku merasa, seperti ini.
duduk di ranting rapuh. yang jika pemandangan kedepan terasa menyenangkan tetapi tetap saja aku pasti akan jatuh.
Aku akan sakit pada akhirnya.
Dan di akhir cerita seperti itu aku akan tetap memilih dirimu.


II

Ada apa mereka ini?
Apa mereka gila?
kenapa semuanya menyerang satu kali?
Kenapa tidak beruntun saja?
Satu demi satu. Satu bagi satu.

Apa kabar dengan kekasih hatiku bila kalian semua seperti ini?
Ayolah, Tolong!
Beri aku ruang?
Aku tidak bisa bernapas dengan semua pesona lukisan.
Tolong?
dan, HATI?

Maafkan aku, membentakmu.
tidak bisakah kamu setia pada satu hati,
mengingat satu kepala, mencintai satu senyuman.

Ayolah, Tolong.
HATI!
jangan berlagak bahwa kamu sedang heboh dan beramai - ramai banyak yang datang.
aku tau kamu kesepian. hatiku, aku adalah bagian kamu. bisakah kamu, menolak semuanya?
dan, Kalian?

Berhentilah, menghiasi hariku dengan hal -hal menyenangkan. aku hanya ingin bersama Kekasih hatiku. meski tidak ada yang menyenangkan disana.

III

Aku ingin mengirimkan salam, aku mengenalmu.
Aku ingin mengirimkan pesan, untuk keseribu kalinya.
Kamu mengatakan, " Aku Sibuk."

Ada apa sih?
Dengan Siapa?
Apa yang kamu Lakukan?
Dan dimana itu?
Aku ingin bertanya, tapi.
Tenagaku habis sampai disini.




#SalamSelamatDariKematianBatin



Selasa, 21 November 2017

Review - Marlina



Marlina.
apa kita perlu sebuah film tentang mempertahankan rasa tidak aman kita sebagai perempuan? tidak kita tidak perlu itu, sungguh.

selama ini. selama saya tinggal di Bali,
saya tidak pernah melihat Antusias teman - teman kerja untuk nonton film Indonesia, kecuali film itu ada aktor tampan, atau kalau ada cameo bintang besar.
saya sendiri juga pernah ada di posisi mereka. meragukan kualitas perfilman indonesia, karna yang hadir selalu saja 'gantung' dan 'tidak ada isi'.
tapi, sudah mulai setahun kebelakang. saya terus menantikan film indonesia,
saya masukan dalam benak baik - baik.
bahwa rasa bukan kritikus makanan. yang tidak tahu masak. lantas tahu rasa yang enak itu seperti itu apa. saya lupa kalau seorang kritikus makanan sekalipun mereka bisa buat sarapan mereka yang sangat simpel. dan itu makanan.

saya, dengan sangat egois bilang bahwa film Indonesia itu jelek - jelek. ceritanya menyedihkan, tidak ada yang bisa menjual selain ketampanan dan darah blasteran aktor aktrisnya. itu saja

Marlina.
Si Pembunuh 4 Babak.
saya akan membahas 4 Hal yang saya tanam di hati dan saya bawa pulang ke alam mimpi setelahnya, kecuali bagian pacar saya meremas tangan saya ketika dia terus saja berdecak kagum dengan keindahan Pulau Sumba, dan bertanya apa pacarnya yang dari NTT ini pernah kesana.
tidak sayang,
saya juga menikmati Pulau Sumba dalam Film Marlina ini sama seperti kamu.


Pertama, Marlina.

Marsha Timothy jelas - jelas terdengar seperti teman SMA saya yang datang dari Sumba. namanya Merlin. benar - benar persis. saya kadang harus terdiam. karena dalam hati meruntuk. '' SHIT, DAMN YOU MARSHA. YOU LOOK AMAZING. ''
Dimana keindahan Marsha itu berasal dari Bibir Kering dan kulit Sawo Matang seperti seharian berjemur di Ternak Kuda hasil Masuk Minta dapat Belis yang wow dari Suaminya yang sudah mati.
Cara Marlina memegang Parang besar punya Markus, Logat Marlina mungkin kurang berhasil.
tapi indah sekali. setidaknya Marsha lebih baik daripada saya yang jelas - jelas tidak bisa berbahasa Daerah. Itu Gila.
Cara Marlina mencintai nyawa Topan dan Suaminya adalah yang saya puja - puja, dan juga cara Marlina mematikan kesempatan Markus dan Pria - Pria itu membuat saya takjub. saya tidak ingin mencoba. tapi jangan Christy. jangan kamu minta digoda Pria haus selangkangan.
Cara Marlina tidak peduli bahwa laki - laki di Timur itu baik, mereka selalu benar. mereka selalu punya wewenang tidak hanya diatas kamu bisa bangun rumah, tapi juga diatas Tubuhmu.

Oh Wanita,
tidak akan yang namanya bercinta itu salah, dengan syarat.
kamu tidak menolak untuk dinikmati, dan kamu menyetujui semesta menepukmu lewat cara kerjanya sendiri. dan ini cara kerja Marlina karna ia tidak ingin diperkosa.
dengan menunjukan kepala yang ia tebas, setidaknya dipamerkan secara tidak senjaga sepanjang Padang Savana menuju Kantor Polisi Kota Sumba.
saya jatuh cinta dengan Marlina, dan Marsha di dalamnya.

Kedua.
Mayat di ruang tengah rumah Marlina.
Nyata. dan Gilaaaaaaaa...
tidak dapat dipercaya. tidak dapat dipercaya. rasa - rasanya saya seperti dibawa ke pengalaman mengkhawatirkan,
bagaimana mungkin saya ingin jadi batang pohon waktu drama SMA, bukan Tuan Puteri. saat itu pasti saya menolak.
tapi menjadi Mayat di ruang tengah Marlina adalah salah satu hal yang akan saya lakukan jika diberi kesempatan.
Mayat itu adalah Saksi Mati. dalam bentuk harafiah.
bagaimana Marlina memeluknya, bagaimana Marlina membuat rasa patah hati dan kehilangannya begitu nyata. pemeran mayat itu perlu dapat traktiran semangkuk besar bakso pedas. karna aktingnya yang luar biasa. siapapun kamu.
aku jatuh cinta.

Ketiga,
Adegan Mama yang menghantarkan 2 Kuda untuk keponakannya yang mau menikah.
aku teringat keluarga.
mungkin itulah Indonesia, untuk menjemput calon anggota keluarga baru.
mereka akan membuang rasa ingin tahu dan tetap berjalan bersama kamu.
mereka akan senantiasa mendukung kamu, dan tetap saja.
Mama ini pemenang juga. Perempuan memang terlahir seperti itu ya Mama? tanpa rasa takut? penuh dengan rasa penasaran, teguh dan kuat? apalagi kalau semakin tua, semakin menjadi katanya.
haha. mamatua oh mamatua.


Keempat
senandung sumba, sepanjang lagu ini dinyanyikan Franz. ada sihir. iya sihir.
saya dan pacar saya menjadi gila. kami tergila - gila dengan lirik dan mistis dalam lagu yang dinyanyikan Franz,
disini, saya memutuskan untuk mencari lagu tersebut di gugel. pacar saya tertawa.
kita berdua benar gila. semoga kami menemukan lagu itu dan artinya.
sangat gila. semoga siapa saja yang duduk nonton Marlina merasakan cinta dan kegilaan sama seperti yang saya rasakan.

-----

Oh iya,
sebagai seorang yang tidak tahu apa.
saya ingin meminta maaf kepada siapapun yang sudah menonton Marlina dan berbeda pendapat dengan saya disini.
Film Marlina ini film yang luar biasa, sangat luar biasa.
tapi ada beberapa bagian editing yang terkesan dihambur - hamburkan. pemandangan pulau sumba yang bisa dibilang memang menjual membuat saya merasa panas di dalam bioskop, grading yang kuat dan pengambilan gambar terhadap karakter kurang memuaskan. membuat saya sedikit tidaknya jadi hanya ingin mendengar dialog, bukan dalam keheningan dan menonton pemandangan sumba yang dibuang percuma.
tapi, setelah saya mengingat ini adalah karya Mouly Surya.
saya merasakan bahwa inilah Ciri Khas dari Mouly. Tenang, Hening dan Tembak ke Cerita inti.
Khas perempuan berprinsip yang gagah tampilannya.
Terima Kasih Mbak Mouly, yang mengambarkan semua hening itu setidaknya bisa berbicara, apalagi tentang Isu perempuan di Indonesia. yang sekenanya jadi korban lelaki gila. semoga kita belajar dari sana.

Terima Kasih.
semoga tidak gila sama dengan saya.










Senin, 16 Oktober 2017

TigaX30Hari - Poetry


aku pernah bercanda tentang sesuatu yang tidak ingin kulepas.
tapi secara sadar, aku merelakannya pergi.
pergi sejauh dia bisa, atau sejauh aku tidak bisa.

petualang seperti aku menanti- nantikan rumah bagi seorang. bukan dua orang,
meski dalam kepalaku, siapa saja boleh masuk.
kupersilakan maju.
kusediakan keset untuk membersihkan alas kakimu dari perjalanan jauh bersama orang lain,
yang meninggalkan luka.
marilah masuk kedalam hatiku, akan kuobati rasa sedihmu.
dan setelah kamu senang, jangan lupa untuk bilang terima kasih.
dan kusembunyikan alas kakimu di gudang belakang,
yang kuncinya kutelan di malam pertama kamu menginap.
berbulan - bulan lalu, selama ini.
agar kamu lupa. siapa yang mengijinkan kamu masuk, karna ini sudah terasa seperti rumah.
tugasku sudah selesai.




Minggu, 20 Agustus 2017

I Thought - Poetry

I thought we were dating. Since i kissed you after we both saying goodbye in the end of the block of my homestay.
Crushinh over someone that doesnt wanted to put status or title in your current mood is killing me. Dont you know that?
After i know that affection is another words of love and it sounds better to people like us. I trying to belief that star is not bright anymore and sky is never be black but it just my eyes are to blind to see the truth.
 
I was walking in the other day, wish that i could bring your hugs and kisses home again as my late night snack after a long tired day. But what i have is small cup of black coffee and i found its bitter for me to sip again after the weather outside changing from warm to cold as fuck.
I need you as my track to find a way back. And if you wont put title on it, i dont know if i belong here or not.
After crazy monday and cola lose his soda. I changed my meals from my table to the trash.
 
I was pouring the red wine while thinking about how over thinking i am thinking about something that i souldnt over think about and here i am, over thinking about you that i shouldnt over thinked about. And cut my way again cause i think we were dating cause i kiss you.
In other day, again. I saw you walking with earphone in. Jesus, too cute to ignored. but wait, im on my own fantasy.
 
Hey, but lets raise our glasses. I shouldnt regrets about the time that when you on top of the debate with me and you thought that you won but you are not cause hey. We dont have title. So, why i should care?
 
 

Sabtu, 25 Februari 2017

Lapar dan Sepi #Puisi

Kelaparan adalah jalan pulang seorang mati setelah tertawa atas leluconnya sendiri.

Kelaparan dari bentuk kesepian baru yang menciut jadi rasa sakit sekali. Serasa pupus harapan ingin segera mengakhiri saja hidup ini.

Kepada pembohong york bohong yang menamakan diri mereka sahabat. Kenapa selalu setuju atas jatuh perkataanku?

Oh iya aku lupa.
Sahabat adalah yang tau dimana kelemahanmu.
Yang tau dimana letak pisau di sudut dapur homestay murah meriah kemarin yang aku tinggali bersama dengan kekasih khayalanku.

Sudahlah,
Aku tidak ingin melakukan ini lagi.
Aku kelaparan, akan aku ambil pisau dari tangan sahabatku dan membunuh diri sendiri karna, aku kenyang dengan kenyataan bahwa kekasih khayalanku dibawa pergi dari geser kanan di aplikasi dating murahan.

Loh.
Jangan marah. Ini fakta.
Ketika mencintai dapat hadiah kesepian karna dia lebih dulu tidur setelah bercinta yang hebat.

Kelaparan aku melanda lambung kosong subuh jam 4pagi.
Kenapa bisa aku menatapnya jongkok berdiri dan tunduk lagi? Sedangkan semalam dia jadi setan.

Seharusnya dari celana jeansku yang ada di sudut ruangan dan braku yang menyempil di samping bantal peluknya mengajarkan bahwa kelaparan dan kesepian bisa jadi alasan untuk Membuat Sahabat dan kekasihku bisa tidur bersama setelah aku bercerita panjang tentang betapa gerah bisa jadi alasan untuk lengah.

Sepiku mencium lututku.
Dalam nama Bapa di surga, di tengah hari aku bercerita pada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, kalau aku dan rasa sepiku menciptakan dosa baru.

Dan setelah selesai mendengar Kidung dari Sebelah kamar kami yang menghadap timur Pura. Jam 6 sore tepatnya,

Kekasihku menyelesaikan asap mengepul dari sampoerna batangan yang kubeli di kios depan, ia pamit karna kesepian dan kelaparanku sudah enggan ia terima.

Pulang ia bersama sahabatku dan pisau di dapur hilang. Aku mati Malam itu setelah menangis sampai subuh lagi. Rindu dia bersahadat bahwa aku adalah seluruh hidupnya. hidangan Tuhan yang berkenan ia santap setiap malam. Dan menagih pada Tuhan di setelah tangkup tangannya agar aku pergi dengan cara yang mudah.

Jatuh cinta pada siapa. Tapi bukan dia.




#SalamKetagihan



Jumat, 11 November 2016

Ada Apa Di Jakarta? - long trip recap-


Sebaik - baiknya manusia adalah manusia yang tidak sia - sia di dunia.
etbuseet. kate siape? * kata siapa*

tanggal 6 Agustus, jam 2 pagi. bangun dan mandi.
apa yang bakal gue lakuin 4jam kedepan adalah hal yang menurut gue penuh resiko dan bodoh, dan ngga memikirkan apa yang terjadi. jangka panjangnya bagaimana itu masa bodo.
yang jelas. jam 2 pagi. mandi, make up'an dan jalan kaki menuju bandara Ngurah Rai Bali untuk keutuhan kehidupan penuh ambisi dan gairah gue. JAKARTA.
dan sejauh ini cuma Jakarta dan Melbourne yang terlihat menggiurkan di mata anak kecil songong kayak gue. ada apa di Jakarta? ada apa di Melbourne?
itu yang selalu gue sangsikan. gue ngga mau ngedengar aja dari orang gimana itu Jakarta? atau ngebaca dari koleksi buku hasil minjem temen yang ngga gue balikin. gue pengen ke Jakarta untuk liburan dan mengisi rasa haus gue yang terlanjur gede dan viola. gue di jakarta.



my first place to hang arround is here. Pantai Indah Kapuk Hospital in Cengkareng. Jakarta.
gue harus ketemu Rheinner Nickolaus Mawar dan bilang kalau gue ada di Jakarta. karna dia belum tau sama sekali kalau adeknya yang satu ini gila.





Di Jakarta, Gue cuma ketemu 4 Orang yang gue kenal.
Yap, 4.
dari beribu - ribu teman yang kuliah di Jakarta, Bogor, Depok, Bandung.
melihat teman Ende- Bali mereka nyasar ini ngga ngebuat mereka sama sekali tertegun dalam hati dan mengingat kebaikan gue selama ini,
dan ngga ada yang mau nemenin gue selama 2 minggu di Jakarta.
damn guys. thank you.


So, I stayed in Cawang, near by UKI.
Cause Rhein didnt allowed me to stay in Cengkareng,
guess what, cause the society didnt allowed him to stay with his sister.
apa ndak salah, wajah kami sangat amat mirip. KTP isinya dengan nama keluarga yang sama.
kami orang timur pak,
nama keluarga sama ya berarti satu keluarga.
ndak kayak disini, nama Bianca dan Paijo punya nama keluarga bisa Kimberly atau Suprapto.
dude, we didnt work that way.

okay,
back again.
I stayed with Rhein Girlfriend, one of the most generous person i met in my entire life.
she brought me to Gramedia, which is for me it was heaven on earth.
even tho im in Bali, reaching out for Gramedia the book store is quite hard than i thought.
she introduced me to fancy life style that yet is quite not that fancy.

we live in 2x3 rooms.
and it cost more than my place back in bali, wth?
Jakarta.
please be nice. hahaha.

masalahnya itu, ya kalau di Bali kamu bisa bilang,
you wont died because you can stay everywhere cause its so cheap. i mean not the hotel.
Kost - Kost'annya.
but you would die if you can choose wisely the intertaiment or the options of meals and jewerly.
i mean, you still got an option to enjoyed your life without thinking that your bedroom will cost more than your lifestyle.
meh, i couldnt.
Jakartaa... oh.. Jakartaa..





And,
i dont have anything to said about Jakarta.
everybody already spoiled me with Jakarta things such a Flood and the Traffic.
thank god. Jakarta seems really good.
you know what Jakarta smells like,
Jakarta smells like a whore. yes.
she doesnt have any options to living her life up.
she thought she worked really hard. but what she did actually were sleeping all day and working all night.
Jakarta smells like whore. yes.
that have  4childern from different daddies.
she raised them up cause she dont wanted to said yes to abortion.
she take the sins with her. she carried it with love.
she carried that with tears.

Jakarta smells like whore. yes.
she were the luxury queen in the night, with all the earings and the fake diamond neckless.
with the red heels and short skirt. and the red lipstick also. so damn beautiful.
you can realized that u even didnt wink for a minute.

but Jakarta also a mother that ended up in the kitchen with long dirty dress that she bought from early twenty four man that walking arround in the neighborhood and flirted at her, cause he knew that Jakarta was that woman.
she fried Gurame Fish, and made Sambal Terasi with Sayur Lodeh to all the family.
but she forget to make the rice, so she need to order in Rumah Makan Pandang. 7 Take Away Rice.
for her babies that will got home soon after tired long day in the Muslim School.

Jakarta smell like a whore. yes.
but a kind whore.



And my biggest thank was for this guy.
Deev Gesiradja.
He Took me to Kota Tua and take a shot of me.
was a lovely day.
and he almost took everystep of mine.
much love Kak Deev.
Thank you.






Kamis, 27 Oktober 2016

Darkness - #HeWantPeace #Poetry

Lelaki ku itu hebat.
Dia tidak memakiku karna menciumi leher pria lain. Atau memeluk Jiwa lain karna ia ingin damai dalam tidurnya.
Dia tidak ingin berurusan dengan masalah siapa yang aku tiduri malam ini.
Dia bilang. 'Dia Percaya Padaku.'
Aku bilang. 'Aku Tidak Percaya Siapapun.'
Adalah kenikmatan yang ditawarkan dari perjalanan penuh kehangatan menuju riak ramai orang-orang.
Mengabadikan musik dalam roll roll film habis memori kuota kita.
Aku dan Lelaki ku yang lain.
Adalah sendu yang mengganggu ketika kuketuk pintu kamarnya setelah memeluk dan menciumi bahu Lelaki lain dalam perjalanan pulang dan Lelaki ku masih menerimaku dalam lengannya.
Tidak ada apresiasi pasti setelah Lelaki ku bercerita tentang kehidupannya yang klasik. Mandi. Minum Kopi. Dan perasaan hendak matinya.
Aku bosan dengan cerita kalau Lelakiku membosankan.
Aku ingin cari baru.
Tapi kata sikut hitamku. Cukup saja Tiga.
Jangan ditambah lagi. Nanti aku tergeletak dan bisa mati patah hati.
Tidak sikutku. Lelaki ku telah terbiasa ku tipu. Jika karma menyentuh tulang belakangku. Itu balasanku. Aku tidak apa.
Bosan aku.
Tapi,
Ini adalah yang ingin kutanyakan.
Lelaki ku adalah orang baik yang tetap menerimaku setelah bibir dan pinggulku habis oleh lelaki yang lebih baik, ada apa ini?!
Dia ingin damai atau dia ingin aku pergi hanya lupa untuk membuatku bisa menerima semua permisi tanpa sakit lagi?
Tolong jawab aku,
Aku ingin bosan dan Damai lelaki ku terjawab setelah puisi ini aku sebarkan sebagai hina dalam ladang badanku.