#1MugBeras

Peduli Rokatenda

Sabtu, 24 Agustus 2019

Aku menicintaimu 3000 - puisi❤️


Aku terbangun lagi, dalam kepalaku meminta maaf karna aku tidak bisa dengan lega mengikhlaskan kamu.
Berpikir kamu tidak punya hati, padahal semuanya kamu bagi kepada setiap satu kepala yang kamu cintai, kamu anggap sanak famili.

Aku terbangun menangis anak lelaki muda kehilangan sosok pahlawan kesukaannya.
Kamu bisa jadi Ayah, kamu bisa jadi sahabat-nya.
Kamu bisa jadi siapa saja.

Aku mencintaimu 3000 kali,
Sepanjang tahun setelah kamu membaca ini,
Aku mati berkali-kali mengingat seharusnya cerita bisa jadi lebih baik kalau bukan kamu yang pergi.

Sudah cukup aku sepertinya memaksakan diri.
Apa disebut anxiety? Tubuhku jadi dingin karna aku tidak punya pegangan. Tidak ada sumber tenaga untuk mendatangkan kehangatan.

Jangan peluk aku,
Meski alasannya hanya untuk membuka pintu membiarkan kuambil langkah dan menjadi dewasa.

Jentikan jari dan bukan hanya rasa khawatir yang pergi.
Tapi juga setengah napas, aku tidak bisa berdiri.

Maafkan aku membuatmu marah karna aku tidak seharusnya khawatir tentang kiamat karna aku terus memikirkan yang tidak pasti.
Tapi, aku akan terus minta maaf dan memohon kamu kembali.

Bahkan,
Ketika nanti ada cuplikan menceritakan deritamu.
Teriakan padaku.
"was auch immer notwendig ist".
Dan aku tidak bisa lagi bersama. Ini saatnya aku pergi dari rumah.

Kepala di atas awan - puisi


Aku sakit,
Kodratku sebagai perempuan mengambil peran besar untuk beberapa hari kedepan.
Kalau-kalau saja aku mudah marah. Tolong dimaafkan.

Aku harus menerima sakit,
Mataku sendu dan nafasku turun naik satu-satu.
Terbatuk-batuk di jalan, mencoba menutupi semua ghibah dengan tangan.

Aku memang sakit,
Aku sudah mengirimkan kode ingin tidur di pelukan pacar, semalam suntuk sampai pagi.
You know i always do. Gelisahnya hatiku.
Senyum. Kasih satu pipi.
Satu kanan. Satu kiri.

Aku tidak mau sakit,
Menangis karena mengingat bercanda tentang gelas-gelas di ruang riuh berciuman sedangkan aku sendirian.

Aku tidak mau jadi manja.
Nazarku. Aku tidak ingin menjadi beban.
Kalau bisa mati, semoga saudara-saudariku tidak dikejar oleh hutang duniawi. Karena aku tidak ingin di maki di atas kuburanku yang masih basah wangi melati.

Aku tidak mau terlihat bodoh.
Dengan gagahnya menggelegar, kegagalanku sebagai pejuang diatas rencana sebagai tolak ukur seorang Paula. Pikirku.

Aku bisa saja sedih terus, lalu orang-orang disekitarku menyalahkan kenapa mereka tidak bisa menjagaku tetap bahagia. Padahal masalahnya ada dalam diri, dalam jiwa raga.
Aku tidak bisa terus menulis. 
Tidak ada yang pernah benar membaca.