Sabtu, 07 Februari 2026

Ksatria - Yang Penuh Lara ( berima dengan Malang Raya?)

 Dua kehilangan, satu kedatangan.

Sebuah hasrat untuk pulang.

Sembunyi dalam bayang-bayang keinginan.


Handai-taulan mengenali bahwa jika tungkai dan mata kakiku sudah melepuh, berarti ada yang salah dalam kemampuan berpendapat.


Ksatria yang hatinya penuh lara.

Mencintaiku seperti hangat matahari, ada tidaknya dalam horizon bumiku yang bundar selalu disana dan berputar-putar menyemangati tanda seru daoazzn tanda tanyaku.

Kapital huruf dan semua swafoto-swafoto menunjukan siku dan dahi berkerut.


Tuan Putri yang hilang tiara.

Berhenti minum-minum tequila diantara serarah jam dua ke jam tiga.

Subuh-subuh ia bercerita.

Mengumpulkan bukti dan juga fakta.0

Bahwa tahun-tahun jatuh cinta dengan manusia lain bukan berarti kenangan dan asa mereka jadi sampah.

Untuk berkembang, dan dikalungkannya gelar menjadi tua dan dewasa.

Belasan tahun lamanya.


Dari terang menuju gelap dan datang lagi.

Gelap menuju terang.

Dari mendung menjadi cerah.

Dari dipakainya baju hingga telanjang dada.


Ksatria dan Tuan Putri terjaga.

Menciumi isi kepala berisi keluh dan kesah.

Kenapa harus berjarak antara punggung dan bibirnya.

Kenapa tangannya yang berisi luka, bisa meraih segala kerinduan dari hati yang lengah.


Aku ingin bertanya,melihat apa reaksi dari berkaca..

Aku tidak perlu jadi benalu untuk terus dekat denganmu.

Aku tidak perlu membuka baju untuk bisa mencintai tubuh juga cerita kelam kejammu.

Aku tidak perlu berjalan jauh untuk mematahkan semangat untuk bersamamu.


Jarak ini adalah hal lain yang kubenci tapi jua harus kuhormati.

Memperkenalkan kita tentang saling jujur dan berterus terang tentang cuaca dan berapa kali aku makan sehari.


Aku mempersilahkan permintaan maaf untuk pergi sejauh mungkin, karena dengan cara itu aku bisa jauh mencintai diriku saat bersama dengan lengan dan lehermu yang aku gigit bersamaan lewat kuku dari tangan kanan dan juga lewat bibirku yang menawan.

Tapi,

Rindu denganmu adalah permintaan maafku yang berlarian seperti lebah liar.

Menyeruduk pada setiap ketidakpastian.

Apa yang kita lakukan?


Aku ingin sekali berdiri diatas kakiku..

Tapi berada di atas pinggangmu bukan sesuatu menurutku bisa dijadikan sesuatu permasalahan yang akan kita bahas dalam diam.

Aku ingin sekali menemuimu dan memintamu tidur di antara garis tanganku yang sudah berkisah tentang kita.

Tapi hilang akal sehat dan ditinggalkan di tengah kedai kopi yang sesat adalah kutukan. Kasar dan Kelam.


Ksatria yang hatinya penuh lara.

Puisi ini tidak akan ku bacakan untuk orang lain, jika kamu tidak setuju aku mencuri bibirmu untuk seluruhnya nanti dalam dekat dan rapatku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar