Kamis, 05 Februari 2026

Kekasihku, Segara. ( hidup dalam dekade-ku)

 i

aku ingin menceritakan tentang rumah dan bangunan yang sudah tiada karena keputus
- asaan dari yang pernah duduk dan tinggal di dalamnya,

banyak diksi, kurang aksi. 

rumah milik pemerintah sekarang tumbuh semak yang tingginya diatas mata kaki.

cerita lama tentang memori, berputar sendiri dalam wangi gula dan ragi.


kekasihku sering sekali berkunjung di siang hari sampai tengah malam.

menemani Bapak-ku bercerita, melihat isi rumah bekerja, dan lebih sering melihatku hilang dalam sapaan pergi dan kembali datang. 

dalam rumah dan bangun yang sudah tiada karena keputus-asaan dari yang pernah duduk dan tinggal di dalamnya,

kekasihku sudah menjajah rumahku selayaknya ia punya ruang untuk berkuasa.

dan aku mengambil andil kenapa dia diperbolehkan untuk berbaring dalam genggamku setidaknya untuk merasa punya asa untuk pulang.


kekasihku, cintaku, sayangku.

ada ketika Ibu-ku masih berdiri dengan gagah,menggulung roti dan memasang gorden emas dengan aksen merah meriah untuk menyambut hari raya, tanpa harus mataku diberikan padanya,  ia sudah pasti melihat perempuan kuat dalam rumah dan bangunan yang sudah tiada karena keputusasaan dari yang pernah duduk 

dan tinggal di dalamnya.

kekasihku menawarkan tangan dan kenangan. jika aku menyangkal kehadirannya, 

rumahku bukan lagi rumahku.


ii

kekasihku memeluk rusukku saat gereja tua melupakan tugasnya untuk memberkati umat yang berdosa, aku mencoba untuk tidak merusak apa yang sudah ada.

kerinduan yang dalam dan memalukan.

keinginan untuk membuka lebih banyak dari sekedar ‘ apa kabar peri kecilku?’

kesiapan dari melanggar perintah diatas dosa.


Kekasihku, Segara.

seandainya lewat iman yang teguh aku bisa memindahkan gunung.

lalu  disatukan dua tiga pulau yang selalu membicarakan musim panas bergairah diatas teh manis yang membuatku jauh mendayung palung.


iii

Kekasihku, Segara.

menantikanmu adalah perkara mudah.

akan ku buatkan satu persatu bata ditata, untuk membuat rumah dan bangunan, yang tidak ada keputusasaan untuk siapapun yang duduk dan tinggal di dalamnya.

memikirkanmu membuatku tenang.

mencintaimu membuatku menang.

menyentuh diriku dengan mendengarkanmu adalah senang.



Menyukai perjalanan Kapal Laut karena tidak pernah takut, tidak akan pernah.



inspirasi dari Segara adalah momentum pulang & pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar