Sabtu, 31 Januari 2026

Telat Janji - Sebuah Kenangan


Rasa - rasanya saya menyukai kenangan apa saja yang ada dan datang kepada saya. saya menyukai rasa panik dan penuh tanda tanya saya. tidak ada satu dan dua kemenangan yang berarti yang bisa saya kenang. karna ketika saya tumbuh dan semakin besar.
saya semakin kecil. hidup saya semakin tidak ada artinya.
seperti kebodohan dari dulunya kita bicarakan. saya sudah telat menepati janji. sedih. tapi mau bagaimana lagi.

Janji saya dulu ketika pertama kali terbang ke Bali, adalah menghargai orang tua.
menghargai bagaimana orang tua saya bekerja keras untuk tidak membuat saya patah arang.
hampir semua teman - teman saya ketika lulus SMA sudah tahu mau kemana, kuliah dimana, ikut pelatihan ini atau itu.
dan orang tua saya disudutkan oleh nilai - nilai ujian saya yang cemerlang. ditertawakan oleh isi dompet mereka yang kering- kerontang. tahun 2013. mereka berani menguliahkan dua orang kakak saya. saya sendiri sudah lulus, dan Billo adik saya masih ada di SMP Swasta. duit orang tua saya ada menyebar kemana - mana.
mereka menepuk bahuku berkali - kali dan minta maaf karna keinginanku untuk Kuliah tinggi - tinggi terhalang mimpi kedua orang tuaku. yang mereka mengira mereka telah salah strategi. aku bisa saja mengharumkan nama mereka kalau aku kuliah selesai langsung dari SMA.

Tapi,
menghargai keputusan orang tua adalah paksaan yang setidaknya harus saya terima berkali - kali. termasuk satu hal ini.terbang ke Bali dan bekerja di Bandara. dengan mental masih tidak bisa terima kenyataan dan hidup yang akan saya jalani ke depan.
waktu itu saya berpikir siapa yang tidak suka Bali. Bali Man!
tapi beginilah yang terjadi setelah hampir 12tahun lewat.
saya menyukai Bali lebih dari apapun, dan sebagian dari diri saya tinggal disana. dengan segala suka dan dukanya.

sekarang, Janji saya sudah berubah.
Janji saya adalah menemani hati dan lutut saya untuk tetap berada di tempatnya.
janji untuk tidak menangis setiap kali dengar Golden Memories Music Collection milik Bapak yang jadi alarm ampuh untuk membangunkan sisi cengeng saya.
adik saya Prilly suka marah - marah. suka ngga tega ngeliat kakaknya kalau nangis dikit aja, langsung galau kayak anak SMP yang baru pacaran sekali terus langsung ciuman dan grepe - grepe. *this one a joke, pls laugh with me*

Janji saya adalah menuntaskan janji saya yang pertama.
tanpa resolusi, sekarang tidak ada yang berkurang dari yang lama. mungkin malah bertambah.
sejak bapak jadi satu2nya orang tua yang saya punya.
Rhein adalah segalanya, dan Prilly dan Khia adalah acuan.
dan Billo serta Angel adalah tongkat dan topi untuk menumpas panas yang membakar tengkuk leher saya.

Di Usia 30Tahun, untuk orang Flores. Usia itu baru aja lewat dari masa -masa berat dan serius. nothing that makes you too hurry with that number, you will never got questions about "kapan nikah?" atau "kapan mau ada dedek nomor 2?" aku cuma ketemu pertanyaan itu di Jawa dan Bali. tidak di kampung halaman saya di Ende. kami masih sangat selow. atau dalam keluarga saya, karena kita chill aja? atau karena miskin?


sejauh ini. masih mantap saja kalau udah berumur 27- 29 ngga nikah- nikah. saya juga baru 30.
atau bagaimana  dengan rencana lain? keinginan saya mengikuti jejak  jejak keluarga saya yang kebanyakan nikah diumur yang matang. tapi apa tujuan hidup saya cuma nikah?

saya ingin seperti teman - teman yang punya progress. di umur 30 Tahun udah punya harta benda duniawi dan surgawi. punya suami, punya anak, orang tua sudah diajak Umroh atau jalan - jalan ke Singapore. 
mimpi, tapi tidak terlalu berat. saya bisa. mungkin tidak sekarang.

30 Tahun dan sudah bisa begitu. kalau di Indonesia Timur.
kamu cuma punya dua case kamu bisa kayak gitu.
1. BAPAK KAMUUUH PEJABAT
2. BAPAK KAMU PREMAN YANG NGELINDUNGIN PEJABAT


sayangnya, saya bukan keduanya.
dan janji saya yang ini. saya pastikan akan ditepati, meski telat.
doakan saya.








Jumat, 30 Januari 2026

White Flag ( buah pikiran )

 Tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun yang membuat saya mabuk kepalang ini, saya hampir menyerah karena seperti keracunan obat demam, saya membuat keputusan untuk mengambil tindakan tidak terpuji dengan mengencingi lingkaran keramat dari kemunafikan yang saya tidak pernah tuntaskan.

saya tidak pernah menang, dan rasanya sulit sekali untuk membual hal- hal baru ketika setelah umur 25, semua yang datang dan berkunjung adalah buah karma dari pengalihan isu dari setiap dosa yang telah saya pikul dengan mengesampingkan  efek jera di akhir hidup saya.

sebagai seseorang yang hanya percaya surga dan tidak dengan neraka, saya merasa bahwa beberapa kali pun saya terbangun dari tidur siang yang nyaman, saya tidak pernah merasa bahwa ide neraka yang panas adalah penderitaan yang ditawarkan oleh Yang Maha Kuasa, dunia ini adalah neraka dari kehidupan ku sebelumnya,

merasakan neraka di kehidupan baru adalah keberuntungan yang luar biasa. karena diantara bangkit dan tumbuh dari api yang tidak pernah padam, Yang Maha Kuasa memberikan kesempatan untuk setiap manusia keluar dari hangat yang menyesakkan itu dengan bertobat dan jatuh cinta.

menyerah. bukan sesuatu dari Yang Maha Kuasa ciptakan untuk kita.

Ide dari menyerah adalah milik manusia.

Yang Maha Kuasa menunggu kita untuk mengakui bahwa hidup adalah sepenuhnya milik-Nya. 

sesuatu seperti Dosa dan Pahala.


dan buah pikiranku membuka gerbang, dengan tebak- tebakan yang sama sekali tidak lucu, karena dalam isi tengkorak, ada pernyataan yang menggema, buah pikiran hadiah dari Yang Maha Kuasa, bahwa aku adalah pilihan terakhir. 

ada seseorang tidur diatas kesakitan karena hafal betul Ia tentang rasa sakit dan derita yang ditanggung karena menjadi Pria Dewasa. menunjuk aku menjadi penutup hari - harinya yang penuh dengan sinar redup keberhasilan dari menutup luka lama.

aku melihat bahwa ia merindukan ku saat ada diantara luruh oksigen yang di sia-siakan dan waktu yang terbuang selayaknya sampah organik yang menghasilkan metana. terbakar tidak berguna.

aku mendengarkan musik tenang dan menggerutu kenapa tidak ada yang bisa mengajak ku memukul kepala dibalik dinding kamar indekos ku. perbincangan tentang mati, menghidupkan malam- malamku.

lagi, rupa-rupanya aku pelupa.

tidak bisa segera membuat setiap insan untuk meninggalkan siapa yang ada dalam masa lalu mereka, jika yang aku bawa sebagai perempuan dengan banyak luka, adalah malu. 

semua yang seharusnya tertutup, aku buka dengan paksa.

semua yang seharusnya untuk aku saja, ku bagi seperti sedekah.

jika ini adalah catatan yang menunjukan betapa aku cemburu pada setiap insan yang berjalan maju, mundur dan percaya diri.

maka sudah saatnya aku berhenti menulis puisi jua mempertanyakan..

'' apakah cintamu padaku berbeda dari yang lusa dan hari ini? atau besok ada perkara baru untuk kita tinggalkan sambil  mengibarkan bendera putih? ".


 *foto dari Pameran STIGMA 3.0 ( credit to Mas @bad.habit - in Instagram )