#1MugBeras

Peduli Rokatenda

Senin, 24 Februari 2025

A Week With Cosmic - kerja part time

Saya tidak biasanya menerima lebih dari dua atau tiga kerjaan jika itu bukan berkaitan dengan sesuatu yang cepat, singkat dan tidak ada sangkut paut dengan mahluk hidup. Tapi 2025 yang baru berjalan 2 bulan ini sudah membuat saya merasa bulan-bulanan karena banyak sekali pengeluaran dan banyak sekali rasa sedih karena terus - terusan nyari kesibukan bukannya nambah duit, tapi malah nambah sakit.

dan seminggu yang lalu, seorang teman menghubungi saya karena ada sesuatu yang mendesak dan menurut dia saya dapat dipercaya untuk melakukan ini. untuk beberapa saat saya meragukan diri karena wah, banyak sekali permintaan dan komitmen dalam tugas kali ini. menjaga seekor kucing, menjaga rumah dan mempertahankan kepercayaan teman.

1 minggu. satu minggu adalah waktu yang teman saya minta dari saya untuk saya bisa menjaga rumahnya di salah satu wilayah yang tidak pernah saya sentuh selama 12 tahun saya berada di Bali. it is so mindblowing that i see this side of road everysingle month yet i never knew that this place existed. TB is another part of Canggu, close to Pererenan, pretty far from Berawa, yet 20minutes away to Heart of Tabanan. what the actual freak? 

and yes, i take this chances to stop myself for a little crowded moment from my actual place in Semer. i still stay in the same Ex Hotel Building in Semer, Kerobokan cause i believe that is the best place to feel the zen. to actualy gaslighted myself that i really living the Big City Live that i always dreamed about.

ini adalah malam pertamaku dengan Cosmic, kucing temanku yang sangat clingy tapi juga independen. Hey Cosmic, you know what.. you sounds familiar.. hihi, karena baru malam pertama. aku cuma bisa membujuk Cosmic untuk bisa suka sama aku. dan untuk beberapa saat ini yang bisa kulakukan adalah memutar musik yang relaxing untuk kucing-kucing.

beri tahu aku, trick apa yang paling mampuh agar kucing rumah yang cantik nan elegan bisa mencintaimu.

aku sungguh ingin berteman dengan Cosmic.


p.s

aku harus tidur cepat, besok aku kerja jam 5.



Rabu, 29 Januari 2025

cerita cinta


untuk beberapa hal yang tidak bisa dimengerti dan bagaimana itu sendiri terjadi, ada beberapa hal yang perlu disadari dari menyukai seseorang dan bagaimana batas yang dibuat untuk menjadikan itu setara,tanpa ada embel- embel cinta harus seperti ini dan kamu harus seperti itu.
kepada orang - orang yang ingin pergi tapi keadaan meminta kamu untuk tinggal.
kamu bukan sedang tidak dihadapkan dengan pilihan, tapi bagaimana menjadi baik dan tegas kepada hidupmu sendiri dan bertanggung jawab dengan yang harus kamu hadapi.

kesan terakhir yang dihadapkan ketika kamu menjadi dewasa adalah bertanggung jawab. tidak pernah akan kita belajar di sekolah tentang tanggung jawab menjadi seorang dewasa, tentang menjadi manusia dengan hal remeh- temeh seperti mencintai dan memahami kepribadian orang lain dan bagaimana menurunkan ego sendiri untuk bisa paham bahwa di dunia ini. bukan hanya tentang kamu dan hidupmu saja.

cerita cinta semua orang baik, siapa bilang tidak.
semua orang menyukai cerita yang bisa dijadikan pelajaran.

Rabu, 08 Januari 2020

Perbuatan Hasil Bercanda - Puisi



Siapa itu dia?
Mendoakan aku aku baik- saja.
Semoga semua tidak ada masalah.

Rasa sakit ini terasa seperti Tzatziki basi.
Dicampur di dalam kari, ditambahkannya dalam basmati.

Aku pulang karena aku membenci diriku yang kecewa. Sekali lagi,
Karna aku tidak ahli bercanda.

Aku ingin sekali berlutut diantara kakinya.
Memohon maaf karena aku marah.
Memohon maaf karena memang seharusnya, jangan menegurku saat aku sedang patah.

Biarkan aku nyilu.
Diatas jatuh luka berdarahku.
Diatas perih karena hasil jenakaku.

Maafkan aku menjadikan kamu sebagai bagian dari sendiri yang sedu sedan ini.

Aku bisa berbahaya.
Untuk diriku saja.
Mungkin pantas disangka perempuan cuma-cuma.
Mungkin memang seharusnya begini keadaannya.
Ketika badanmu disana.
Ketika pikiran dan ragaku semua berhamburan di jalanan raya.
Terhenti, tapi tidak mati.

Aku kehilangan diriku saat sekali lagi.
Hasil lelucon ini, cuma jadi tujuan kecil Tuhan untuk menjadikan aku mengerti.

Setiap aku.
Setiap kamu.
Pada aku.
Pada kamu.

Dingin.
Dan beku.

Sabtu, 24 Agustus 2019

Aku menicintaimu 3000 - puisi❤️


Aku terbangun lagi, dalam kepalaku meminta maaf karna aku tidak bisa dengan lega mengikhlaskan kamu.
Berpikir kamu tidak punya hati, padahal semuanya kamu bagi kepada setiap satu kepala yang kamu cintai, kamu anggap sanak famili.

Aku terbangun menangis anak lelaki muda kehilangan sosok pahlawan kesukaannya.
Kamu bisa jadi Ayah, kamu bisa jadi sahabat-nya.
Kamu bisa jadi siapa saja.

Aku mencintaimu 3000 kali,
Sepanjang tahun setelah kamu membaca ini,
Aku mati berkali-kali mengingat seharusnya cerita bisa jadi lebih baik kalau bukan kamu yang pergi.

Sudah cukup aku sepertinya memaksakan diri.
Apa disebut anxiety? Tubuhku jadi dingin karna aku tidak punya pegangan. Tidak ada sumber tenaga untuk mendatangkan kehangatan.

Jangan peluk aku,
Meski alasannya hanya untuk membuka pintu membiarkan kuambil langkah dan menjadi dewasa.

Jentikan jari dan bukan hanya rasa khawatir yang pergi.
Tapi juga setengah napas, aku tidak bisa berdiri.

Maafkan aku membuatmu marah karna aku tidak seharusnya khawatir tentang kiamat karna aku terus memikirkan yang tidak pasti.
Tapi, aku akan terus minta maaf dan memohon kamu kembali.

Bahkan,
Ketika nanti ada cuplikan menceritakan deritamu.
Teriakan padaku.
"was auch immer notwendig ist".
Dan aku tidak bisa lagi bersama. Ini saatnya aku pergi dari rumah.

Kepala di atas awan - puisi


Aku sakit,
Kodratku sebagai perempuan mengambil peran besar untuk beberapa hari kedepan.
Kalau-kalau saja aku mudah marah. Tolong dimaafkan.

Aku harus menerima sakit,
Mataku sendu dan nafasku turun naik satu-satu.
Terbatuk-batuk di jalan, mencoba menutupi semua ghibah dengan tangan.

Aku memang sakit,
Aku sudah mengirimkan kode ingin tidur di pelukan pacar, semalam suntuk sampai pagi.
You know i always do. Gelisahnya hatiku.
Senyum. Kasih satu pipi.
Satu kanan. Satu kiri.

Aku tidak mau sakit,
Menangis karena mengingat bercanda tentang gelas-gelas di ruang riuh berciuman sedangkan aku sendirian.

Aku tidak mau jadi manja.
Nazarku. Aku tidak ingin menjadi beban.
Kalau bisa mati, semoga saudara-saudariku tidak dikejar oleh hutang duniawi. Karena aku tidak ingin di maki di atas kuburanku yang masih basah wangi melati.

Aku tidak mau terlihat bodoh.
Dengan gagahnya menggelegar, kegagalanku sebagai pejuang diatas rencana sebagai tolak ukur seorang Paula. Pikirku.

Aku bisa saja sedih terus, lalu orang-orang disekitarku menyalahkan kenapa mereka tidak bisa menjagaku tetap bahagia. Padahal masalahnya ada dalam diri, dalam jiwa raga.
Aku tidak bisa terus menulis. 
Tidak ada yang pernah benar membaca.

Selasa, 19 Februari 2019

Ubud Number One


Christina POV

Motor Christian melewati gang yang biasa kami lewati jikai ingin pulang. Tentu bukan aku yang ingin pulang. Mungkin Christian. Entah kenapa, dari yang kubaca dia melewati jalanan ini. Suram.
Tapi, selalu. Ada yang bisa dibuatnya untukku agar semua bisa tenang. Semua bisa diam. Terutama aku dengan banyak mau.
Hari ini, Kami bersama hanya berdua. Berjalan karna bosan dari kota ke Ubud. Atau karna tiket Jim Jeffriess terlalu mahal untuk sama-sama kaum papah pasangan payah sederhana ini.
Kami memilih yang lebih murah, tapi bisa jadi membuat kami lebih capai seharian. Christian. Bukan aku.

Melewati jalanan yang samar-samar kuingat dari pesta literasi yang kuhadiri 2tahun lalu di Ubud, berubah. Sedikit saja, tapi ada yang menyenangkan disana. Kali ini ada Christian. Kali ini ada Aku sendirian.

“Babe, did you know Seniman Coffee Studio?” Christian tiba-tiba bertanya, diantara keheningan yang kami ciptakan sejak dari Denpasar sampai ke jantung Ubud.
“ Whelp, I ever heard about it. But i dont know where Babe, do you wanted me to googled it?” Kataku pelan memastikan hatiku tidak berlari ke jalanan kota. Fokusku bukan lagi ke Christian, tentu saja. Kepada menangkap kenangan sebanyak-banyaknya yang aku butuh, Sebanyak-banyaknya yang aku mau.
Tidak kudengar apapun dari Christian, tapi dari anggukan kepalanya, aku tahu itu adalah perintah untuk segera mencari letak warung kopi yang sepertinya sudah terlewat cukup jauh.
Tapi, terima kasih kepada teknologi. Kami tidak tersesat cukup lama. Mungkin karna Tuhan sedang memberikan kami sedikit waktu berdebat dan lebih banyak waktu untuk jadi dekat.

Satu  Hot Cappucinno Double shot, Satu Hot Mocha single shot dan Satu Chicken Casadilla menjadi pilihan kami berdua. Lagi.
Jangan tanya aku pesan makan apa. Aku menyerah. Melihat harganya aku sudah mual.
Dan mungkin Christian sudah tahu dibalik permisinya aku ke belakang, itu semua karna penyakit yang sama sekali aku coba untuk tidak memanjakan, tapi kenyataannya masih terus terjadi.
Disela waktu kami menunggu, aku seperti biasa mengumpulkan beraniku. Memandang wajah Christian.
Mencoba lebih pintar memilih mana perkataan yang tidak harus kumasukan dalam hati, dan tidak membuatku gelisah sepanjang hari. Christian banyak berbicara tentang Keluarganya. Aku mulai menyukai rumahku lebih ketika berada di sekitar Christian. Sebagian ruh kukirimkan ke rumah, melihat apa saja yang bisa kuambil dan kukeruk. Kubawakan ke meja kopi kami yang kecil di tengah hiruk pikuk tenang Ubud dan lalu lalang burung berlomba menjadi idola.
Tapi, selalu. Cerita ini kembali. Fakta ini menamparku sekali lagi. Christian berapi bercerita tentang bagaimana kami berdua tidak akan kemana-mana, aku mengangguk. Lebih cepat dari geluduk. Ingin kusangkal. Tapi aku tidak suka pemikiran dangkal tentang keindahan kisah cinta. Jadi aku tetap duduk disana sampai Christian berhenti berbicara. Membiarkan aku menyelanya sekali lagi dengan topik yang berbeda dari apa yang baru saja ia tuturkan. Aku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
Aku tidak ingin membunuh pikiranku sendiri dengan membiarkan seorang gadis ambisius memaki namaku melengking, memekakkan telinga. Ubud, adalah kemungkinan nomor satu, dari perjalanan menyenangkan melepas penat yang lain. Bagaimana jika bahwa jatuh cintaku bukan soal tubuh dan perasaannya. Tapi, soal kehadirannya dan kenyataan bahwa aku tidak pernah memiliki dia?.

Christian POV
Bangun dengan kepala berat, tidurku sangat amat sangat melelahkan. Bagaimana mungkin hari-hari di awal tahun di akhir bulan terasa begitu lambat. Melelahkan. Apalagi, perihal apa yang terjadi kemarin.
Bajingan. Kepalaku dihantam tanpa ada yang berani membengkam.
Dan lagi, ini. Punya pacar satu saja, tapi hebohnya seperti duduk seharian di acara kelurahan. Dari layar smartphone, nama Christina muncul.
Basa-basi. Aku tahu apa yang ingin Christy tanyakan. Tidak akan sampai setengah jam, dia akan menanyakan tentang rencana yang kami susun dari awal bulan.
Ke Ubud. Bersama. Berdua. Hari ini.
Dan, ya. Benar tebakanku. Christy betul-betul tidak memberiku setidaknya waktu untuk geler-geleran atau menikmati Kopi Hitam bahkan ketika jarum jam belum menunjukan jam sembilan. Oh. Theresia Christina Mawar. Baiklah! Akan kuwujudkan permintaanmu. Keinginanmu. Panggil aku Tuhan Kristus mulai dari sekarang. Kami akan memulai perjalanan. Aku hanya diam dan bersiap-siap.

Sejam beralu, aku sudah bersiap.
Motorku melaju sebaik emosiku yang harus kutahan, ada yang bisa kulakukan sekarang. Memperbaiki perasaan dan keluhku tentang hidup. Di tempat biasa, Christy menungguku. Harus bisa untuk terbiasa.
Dan untuk itu, aku akan membungkam mulutku selama aku masih bisa menemukan alasan kenapa hidupku terasa sedikit mati rasa.

---
Semesta Ubud 27 Januari 2019

Aku hanya ingin bercanda dengan orang yang aku kehendaki bisa tertawa diatas kegelisahan dan kepanikan dan meminta kembali ke rahim pulau ini, selama pulau ini masih diisi dengan orang baik, oleh mereka berdua. Aku akan selalu jadi hangat dan lembab yang mereka butuhkan.

Hari ini, sesuai perintah Tuhan.
Aku diminta untuk menahan tangis, jangan membiarkan Christian dan Christina kesal. Mereka datang sama seperti orang lain. Alasan mereka kembali, adalah karena mereka letih.
Dan aku menerima perintah Tuhan seperti yang sudah-sudah. Seperti biasanya.

Dari jauh, langit membisikkanku mereka sedang dalam perjalanan. Senangku menggelegar. Hatiku dipompa kebahagiaan. Mereka datang. Aku menangis. Dan terus menangis.
Matahari memberiku sedikit tamparan dengan memberikan pengertian.

“ Semesta Ubud, apa yang sedang kamu lakukan? Tidak kah kamu mengasihani Dua Insan ini. Lihatlah Christina. Berpura-pura bahagia. Agar rencana ini berjalan sempurna, dan Christian, kamu lihat sendiri bagaimana ia berusaha menelan ludahnya untuk menahan lelahnya agar bisa membuat setidaknya bukan hanya Christina Mawar bahagia, tapi juga dirinya.
Jangan jadi Egois, oh Semesta Ubud. Tolong tersenyum dan berbaikanlah denganku. Untuk hari ini saja. Mereka berdua sedang berusaha untuk terus jatuh cinta tanpa pura-pura. Tuhan telah memerintahkan kamu untuk tenang bukan? Tenanglah, tolong.”

Semesta Ubud terdiam, dihapusnya air matanya.
Dilihatnya betapa bersemangatnya anak gadis itu beranjak memeluk kembali jaket basahnya.
Dalam hatinya, Semesta Ubud berjanji tidak akan membuat Tuhan dan mereka berdua kecewa.

Christina POV

Oh jangan lagi, oh jangan bahas tentang ini lagi.
Sudah kesekian kali, Christian membawa topik ini kedalam pembicaraan kami. Sudah kuduga, tapi tidak bisa kuelak juga.

Datang kesini adalah permintaanku, jika dianggap seperti menunjukan keseriusanku. Ambil.
Tapi, Maafkan aku. Aku mencintai seseorang sampai aku lupa bahwa aku bukan siapa-siapa.

Alasan- alasan ini terus diulang didalam kepalaku, ketidaklayakanku atas menyukai ciptaan Tuhan yang baik membuat sedikit cerita tentang Ubud terasa sakit.

Semesta Ubud, mengedipkan matanya sekali padaku.
Katanya semua beres. Aku ingin percaya. Tapi wangi keringat dan kopi serta gemetar tangan Christian memutuskan kami pulang lebih awal. Semesta Ubud sudah menjadi Tuan Rumah yang baik. Titik temu yang menarik. Tapi pulang ke Denpasar adalah keharusan untuk menghindari intrik.

Christian POV

Ini dia 'Seniman Coffee Studio’
Yes. This is the Coffee Shop that Mom ever told me to at least tried if i will be able to go Ubud and wanted to have Coffee.
Its all nice. The ambiance. Even tho, okay. Its sunday.
There is a lots of people right here. Oh my god.
I wanted something. Okay lets eat.
Yeah. Christy wouldnt order food.
I knew it.
And i wont share. And i think she is fine with only her Hot Mocha with one shot. Look at her, she probably didnt wanted to eat at all, or she already ate before we came here. Like what she always do.

Christina Mawar, dia mulai banyak bergerak. Seperti yang selalu dia lakukan, tertawa setelah aku menceritakan masa SMA ku yang menurutku biasa saja. Anak ini, apa yang lucu?

Ubud membuat pipiku sedikit sulit bergerak, senyumku tidak mudah dibagi, tapi tidak untuk pengalaman ini, setidaknya untuk waktu yand dihabiskan sekarang.
Lewat beberapa waktu, aku hanya bisa memberikan cerita basi yang terus ku ulang kurang lebih seribu kali kepada Christy.
Untuk satu kali ini, mari dinikmati lewat secangkir kopi.


Semesta Ubud.
Pergilah, tinggalkan kenangan seperti sudah seharusnya. Kutunggu kalian berdua kembali lagi, dengan kesiapan untuk lebih percaya diri. Dengan lebih hangat kiriman suasana. Dan cerita kebaikan lainnya.

Christina POV
Dengan berakhirnya hari, apa aku harus masuk dalam remang- remang sekali lagi,
dengan kopi mungkin semuanya bisa diatasi. lagipula.
aku tahu diatas segala, aku tidak pernah menang dengan perasaanku.
yang terus jatuh cinta pada orang yang sama.




Jumat, 08 Februari 2019

Ini Tidak Membuang Waktu - Poetry



IniI Tidak membuang waktuku sama sekali,
Mencintai dan terbangun dengan wajah manismu sekali lagi.

Aku tidak mendamba pangeran
meski dalam raguku yang tidak luar biasa ini,
Sudah menjadi kebajikan, mencintai manusla. Tugasku yang utama.

Bersama - sama dan menopang satu luka teriris bersama.
Aku sama sekali tidak membuang waktuku dengan mencintaimu.

Benar aku cemburu, dengan apa dan siapa,
Memelukmu dan menangis adalah kontra.
Tidak akan kulakukan lagi.
Aku ingin berjanji. Meski tidak pasti.

Menulis akan memberiku sedikit ruang untuk bicara sejujur-jujurnya aku. Meski ada saja yang kusimpan,
dan kukantongi demi kebaikkan sendiri.

Ini tidak membuang waktuku sama sekali
Aku tidak pernah mencoba untuk menghentikan diriku.
menyukaimu sepatutnya, seharusnya.

Lebih dari pada itu, mari berusaha.
Percayalah Tuhan menyukai kita berdua.
dan sedang Dia berusaha mengubah rencana.